Wajah - wajah KL 2006

Tampilkan postingan dengan label makanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makanan. Tampilkan semua postingan

11 Januari 2009

Sanitasi Kantin dan Pelatihan Penjamah makanan Dengan Laik Fisik TPM

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS INDONESIA

DEPARTEMEN KESEHATAN LINGKUNGAN

Skripsi, Desember 2008


ALFIYAH SHINTA SULEMAN, NPM. 0606061745


Hubungan Sanitasi Kantin Dan Pelatihan Penjamah Makanan dengan Laik Fisik Tempat Pengolahan Makanan di Universitas “X” Tahun 2008


ix + 60 halaman + 6 lampiran + 13 tabel + 2 gambar


ABSTRAK


Institusi pendidikan memiliki sarana tempat penjualan makanan yang khusus disediakan untuk murid atau mahasiswa, guru atau dosen, dan staf administrasi. Keberadaan tempat pengolahan makanan di tingkat universitas bertujuan untuk memudahkan hal tersebut sehingga dapat terpenuhinya kebutuhan makanan dan minuman yang terlindungi dan terjamin kesehatannya sehingga tercipta tenaga kerja yang produktif.


Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Susanna,dkk tentang Kontaminasi Bakteri Pada Makanan dan Minuman yang Dijajakan di Kantin Universitas “X” Tahun 2008, melaporkan bahwa semua kelompok makanan (tidak berkuah, berkuah, bersambal, dan sambal) semuanya positif Escherichia coli dan terkontaminasi Salmonella. Makanan bersambal 37,5% positif E. coli. Begitu juga dengan kontaminasi Salmonella, terjadi pada semua kelompok makanan dan sambal dengan kadar terbanyak pada makanan bersambal (33,33%). Hal ini tidak memenuhi persyaratan keputusan menteri kesehatan nomor 715/MENKES/SK/V/2003, yakni angka E. coli harus 0/gram contoh makanan dan minuman.


Menurut Kepmenkes No. 715 tahun 2003 laik fisik tempat pengolahan makanan tidak dengan mudah diperoleh tetapi melalui beberapa tahapan penilaian. Permohonan sertifikat laik fisik jasaboga dilengkapi dengan surat-surat seperti bukti pernah mendapatkan pelatihan hygiene sanitasi makanan minimal satu orang penjamah makanan, surat penanggung jawab jasaboga, dan rekomendasi dari asosiasi jasaboga. Laik fisik dalam ketentuan tersebut yakni dengan skoring penilaian laik sebesar 65 – 70 untuk golongan A1. Universitas “X” memiliki tempat pengolahan makanan yang masuk kedalam golongan A1, karena jangkauan penyajiannya terbatas yakni hanya kepada mahasiswa, dosen, dan staff akademik. Dan dari keseluruhan kantin yang ada di Universitas “X” tidak memiliki karyawan tetap yang membantu.


Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran hubungan sanitasi kantin dan pelatihan penjamah makanan dengan laik fisik tempat pengolahan makanan di Universitas “X” Depok tahun 2008. Metode penelitian menggunakan desain cross sectional, dengan menggunakan data sekunder penelitian Susanna, dkk tahun 2008. Hasil penelitian ini menyatakan semua variabel sanitasi kantin seperti konstruksi bangunan, dinding, langit-langit (plafon), ventilasi, penerangan, kualitas fisik air, sumber air bersih, pembuangan air kotor, toilet, tempat sampah, dan pencucian peralatan tidak berhubungan dengan laik fisik tempat pengolahan makanan karena nilai p yang diperoleh lebih besar dari nilai alpha 0,05 begitu juga dengan variabel pelatihan penjamah makanan tidak berhubungan dengan laik fisik tempat pengolahan makanan dengan nilai p yang dihasilkan sebesar 1.


Perlu ada perbaikan untuk semua komponen sanitasi kantin. Pihak universitas diharapkan mampu memberikan pelatihan hygiene sanitasi makanan kepada penjamah makanan bekerjasama dengan dinas kesehatan yang dilakukan secara rutin dan serentak.


Daftar bacaan : 24 (1991 – 2008)

31 Desember 2008

Hubungan Antara Pengetahuan dan Perilaku Penjamah Terhadap Hygiene dan Sanitasi Makanan Dengan Kualitas Bakteriologis di Kantin Kampus Universitas ”X”

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
KESEHATAN LINGKUNGAN
Sripsi, Desember 2008

Ahmad Fathoni, NPM. 060606 1713


Hubungan Antara Pengetahuan dan Perilaku Penjamah Terhadap Hygiene dan Sanitasi Makanan Dengan Kualitas Bakteriologis di Kantin Kampus Universitas "X" 2008


vii + 69 halaman, 7 tabel, 2 lampiran


ABSTRAK


Insufficient erudition and inappropriate behaviors of food handler while serving foods in the field of food service whether directly or not it also influence food quality which is served for consumer and it is also one of basic aspects of food quality that is being served. This research aims to find relation between erudition in hygiene and food sanitation of food handler, his behaviors and bacteriologic quality at University ”X” cafeteria 2008.

Research design that is used in this case is Cross Sectional Study with Chi Square test to find out the relation with confident interval 95%. Variables which are examined for its relationship each others are namely age, gender, work period, erudition, behavior, and training in food handling, hygiene and sanitation once at a time. The research is held in cafeteria at University X on October – November 2008.

The result of this research shows about 42.5% of food bacteriologic quality in University X cafeteria meet the requirements.
There are 83.6% Food handlers with voluminous age category. And those who have been working less than 5 years equal to 50.7%. Female ones reach the highest in the number, 52.1%. They who have never got training in hygiene and food sanitation count 71.2 % while food handler erudition and behavior in sequence are 43.8% and 34.2%. Statistic test results between food handlers’ characteristics, their erudition and training existence do not show any significant correlation. However, there is a significant correlation between food handler behavior and bacteriologic quality (p < 0.05) with odds ratio value 0.21. The result leads us to a conclusion: proper behavior of food handler is one of factors to keep the food meet the qualification for its biological quality. Food handlers who behave improperly have 5 times tendencies to produce foods with unqualified bacteriologic quality then those who have proper behavior.

Based on this research, it is suggested to hold overviews in food quality enhancement and food handler at University ”X” through a license system for every food seller. It is an activity related to hygiene and food sanitation according to decree of Indonesian Minister For Public Health Number 715/Menkes/SK/V/2003.

28 September 2008

12 Produk mengandung melamin

Iniberita yang gw kutip dari kompas on-line tgl 28 september 2008

Jakarta, Kompas - Sebanyak 12 produk makanan asal China yang beredar di Indonesia, berdasarkan pengujian Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM, positif mengandung melamin. Dari 12 produk tersebut, enam produk terdaftar pada BPOM dan enam produk lainnya masuk secara ilegal ke Indonesia, tetapi banyak ditemukan di pasaran.

”Tidak ada susu produksi Indonesia yang memakai susu impor dari China. Susu impor yang dipakai berasal dari Australia dan Selandia Baru. Kepada ibu-ibu agar tak terhasut dan terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin memperkeruh persoalan. Susu formula bayi buatan Indonesia aman dikonsumsi,” kata Fadilah.

Produk makanan impor asal China yang mengandung susu dan terdaftar di BPOM yang ditemukan positif mengandung melamin adalah dua jenis stick wafer merek Oreo, susu bubuk full cream Guozhen, dua jenis kembang gula merek M&M’s, dan biskuit Snickers. ”Semuanya produk impor dan bukan buatan dalam negeri,” kata Menkes.

Produk impor China yang mengandung susu dan positif bermelamin tetapi masuk secara ilegal adalah kembang gula White Rabbit kemasan biru dan merah, Soybean Drink with Milk kemasan hijau dan kuning, Soyspring Instant Milk Cereal, serta Soyspring Instant Peanut.

”Produk makanan impor tersebut positif mengandung melamin dengan kadar berkisar 8,51-945,86 mg/kg,” ujar Fadilah.

Selain mengimbau agar tidak mengonsumsi produk-produk bermelamin yang ditemukan di Indonesia, Menkes juga meminta masyarakat tidak mengonsumsi produk impor asal China yang mengandung melamin temuan Agri-Food & Veterinary Authority (AVA) Singapura. AVA Singapura mengumumkan 13 produk China mengandung susu yang berkadar melamin.

”Kita takut rakyat kita di daerah perbatasan atau pas belanja di Singapura mengonsumsi produk- produk berbahaya itu,” kata Husniah.

Produk makanan atau minuman dalam negeri menggunakan kode MD, SP/PIRT, sedangkan produk impor menggunakan kode ML. Produk-produk yang terbukti mengandung susu bermelamin tersebut semuanya menggunakan kode ML karena diimpor dari China.

selengkapnya baca di http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/28/02125914/12.produk.positif.mengandung.melamin